Himbauan Keamanan Siber

Eksploitasi F5 BIG-IP: Serangan Siber Lewat Akses SSH ke
Jaringan Enterprise Linux
Tim Microsoft Defender Security Research mendeteksi
serangan multi-tahap yang mengeksploitasi F5 BIG-IP sebagai titik masuk (initial
access). Serangan bertarget identitas ini pada akhirnya berhasil menyusup
hingga ke Active Directory perusahaan.
Tren: Perangkat Perimeter (Edge Appliance) Sebagai
Akses Awal
Serangan ini mencerminkan tren yang kian meningkat di mana firewall,
VPN gateway, dan load balancer—yang secara tradisional diterapkan
sebagai batas keamanan (security boundaries)—kini justru dijadikan
target utama untuk akses awal.
Karena perangkat perimeter ini terekspos langsung ke
internet (externally exposed), jarang dipantau secara ketat (lightly
monitored), dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi (highly trusted)
di dalam lingkungan korporat, satu kompromi saja dapat memberikan penyerang
posisi yang kuat (foothold) yang tahan lama. Selain itu, penyerang bisa
mendapatkan akses ke kredensial yang tersimpan (stored credentials),
sertifikat digital, serta integrasi identitas.
Tahapan Serangan (Cyber Kill Chain)
1. Akses Awal (Initial Access) — F5 BIG-IP
End-of-Life Aktor ancaman (threat actor) membangun akses SSH ke host
Linux pertama melalui perangkat yang teridentifikasi sebagai load balancer
F5 BIG-IP. Berdasarkan inventaris perangkat, sumber serangan berasal dari
BIG-IP Virtual Edition yang berjalan di Azure dengan versi 15.1.201000. Build
ini umum diterapkan via Azure ARM templates dan modul Terraform,
namun sayangnya telah memasuki masa pensiun (end-of-life) sejak 31
Desember 2024.
2. Pengintaian (Reconnaissance) dan Pergerakan
Lateral (Lateral Movement) Penyerang melakukan autentikasi ke server
Linux melalui SSH menggunakan akun berhak akses tinggi (privileged account).
Mereka mempertahankan akses langsung (hands-on keyboard access) tanpa
mekanisme persistensi yang eksplisit. Hal ini menyoroti bahaya dari identitas
dengan hak akses berlebih (over-privileged) yang memiliki hak akses
sudo.
Di dalam host tersebut, penyerang melakukan
pengintaian secara agresif menggunakan:
- Skrip
shell untuk pemindaian Nmap horizontal di seluruh subnet internal.
- Pemindaian
vertikal untuk mengidentifikasi layanan yang terbuka (open services).
- Tool
gowitness untuk mengambil tangkapan layar dan melakukan fingerprinting
pada layanan HTTP/HTTPS melalui proxy SOCKS5.
- Perangkat
perkakas (toolkit) sumber terbuka (open-source) seperti:
enum4linux, netexec, smbclient, rpcclient, timeroast, ldapsearch,
kerbrute, dan responder untuk pergerakan lateral berbasis NTLM (menyasar
target Windows).
3. Pivot Melalui RCE Confluence Proses pengintaian
berhasil menemukan server Atlassian Confluence internal yang memiliki celah
keamanan belum ditambal (unpatched vulnerabilities), yang memungkinkan
eksekusi kode jarak jauh (Remote Code Execution/RCE). Menariknya,
Confluence ini tidak terekspos ke internet, namun tetap dapat diakses setelah
penyerang berhasil masuk ke jaringan internal.
Karena fitur perlindungan waktu nyata (real-time
protection) memblokir pengiriman payload secara berulang, aktor
ancaman mengubah strategi: mereka menjalankan server FTP anonim menggunakan
pustaka ftplib milik Python di host staging Linux, lalu mentransfer tool
serangan menggunakan perintah curl ke direktori /dev/shm.
4. Kompromi Identitas dan Penargetan Domain Controller
Setelah berhasil menguasai Confluence, penyerang memanen kredensial (credential
harvesting) dari file konfigurasi (server.xml, confluence.cfg.xml),
kemudian menggunakan kredensial tersebut untuk menyerang infrastruktur Windows.
Peningkatan ekskalasi ini mengarah pada:
- Serangan
Kerberos relay.
- Eksploitasi
celah keamanan CVE-2025-33073.
- Penggunaan
netexec dengan teknik pemaksaan (coercion) PetitPotam.
- Manipulasi
DNS menggunakan tooling khusus yang diarahkan langsung ke Domain
Controller (DC).
Catatan Penting
Microsoft mencatat bahwa intruksi ini menunjukkan bagaimana
satu celah RCE pada komponen web yang berdekatan dengan perimeter (perimeter-adjacent)
dapat berdampak domino (cascade) menjadi kompromi identitas yang
melintasi berbagai platform dan batas kepercayaan (trust boundaries).
Penyerang tidak perlu menggunakan teknik yang sangat canggih—mereka hanya perlu
gigih (persistent), terutama di lingkungan hybrid yang memiliki
celah dalam manajemen tambalan (patching) dan pemantauan.
Microsoft Defender for Endpoint berhasil mendeteksi
aktivitas ini dan memblokir payload ELF pada host Confluence yang
telah mengaktifkan fitur real-time protection.