Berita JabarProv-CSIRT

JabarProv-CSIRT | 19 Januari 2025 Dilansir dari Badan Siber dan Sandi Negara (BESTI Edisi 49) Generasi saat ini hidup dengan teknologi yang serba cepat dan mudah diakses. Di satu sisi, kemudahan teknologi dan media sosial memberikan banyak manfaat dalam mencari informasi dan hiburan. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran terhadap pola konsumsi konten digital, terutama kebiasaan scrolling tanpa henti di platform seperti TikTok, Reels, dan video pendek lainnya.
Dari TikTok, pengguna sering kali berpindah ke meme culture dan doomscrolling. Semua konten tersebut dapat diakses dengan sangat mudah. Tanpa disadari, konten-konten ini memang dirancang agar pengguna semakin betah dan berlama-lama di layar. Di tengah kebiasaan tersebut, muncul pertanyaan reflektif: jangan-jangan kita juga sudah terkena brainrot?
Penelitian dari Universitas California menunjukkan bahwa kemampuan fokus manusia kini hanya bertahan sekitar 8 detik, bahkan lebih singkat dibandingkan ikan mas. Data dari Sensor Tower (2024) juga mencatat bahwa pengguna TikTok rata-rata membuka aplikasi hingga 19 kali sehari dan menghabiskan waktu lebih dari 95 menit setiap harinya. Enam dari sepuluh Gen Z mengaku tetap melakukan scrolling meskipun mereka sudah tidak lagi menikmati konten yang ditonton.
Jadi, apa itu brainrot?
Brainrot adalah kondisi ketika otak terbiasa menerima rangsangan cepat, instan, dan terus-menerus dari dunia digital, terutama media sosial dan internet. Setiap kali kita mendapatkan hal menarik seperti like, video baru, atau notifikasi, otak akan melepaskan dopamin, yaitu hormon yang menimbulkan rasa senang. Seiring waktu, otak menjadi ketagihan terhadap sensasi cepat tersebut dan perlahan kehilangan kemampuan untuk menikmati aktivitas yang lebih lambat, mendalam, dan membutuhkan fokus.
Jika dibayangkan, brainrot serupa dengan kebiasaan mengonsumsi makanan junk food untuk otak setiap hari. Rasanya memang menyenangkan dan membuat ketagihan, tetapi dalam jangka panjang dapat membuat kemampuan berpikir menjadi tumpul. Kita menjadi kurang terbiasa menganalisis secara mendalam, berpikir tenang, atau menganalisis informasi dengan cermat.
Selain itu, brainrot juga memengaruhi identitas digital. Dorongan untuk mengikuti tren dan mengejar engagement, membuat banyak orang tanpa sadar melakukan oversharing informasi pribadi. Ketika batas antara ruang privat dan ruang publik semakin bias, risiko kebocoran data dan penyalahgunaan informasi pun meningkat.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai lebih sadar dalam mengelola konsumsi digital. Membatasi waktu layar, mengurangi kebiasaan scrolling tanpa tujuan, serta mengalihkan perhatian ke aktivitas yang melatih fokus dan berpikir kritis dapat menjadi langkah awal untuk keluar dari brainrot. Di era digital saat ini, menjaga kesehatan otak dan kewaspadaan siber merupakan bagian penting dari perlindungan pribadi.
sumber: BESTI – Edisi [49] Brainrot - https://www.bssn.go.id/berita-edukasi-siber-sosial-terkini/